Selasa, 29 Mei 2012

Tujuan Belajar dan Pembelajaran


 TUJUAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
1.      TUJUAN BELAJAR
Tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar. Tujuan belajar merupakan cara yang akurat untuk menentukan hasil pembelajaran. Tujuan pembelajaran (instructional goals) dan tujuan belajar (learning objectives) berbeda, namun berhubungan erat antara satu dengan yang lainnya.
Komponen-komponen tujuan belajar
Tujuan belajar terdiri dari tiga komponen, ialah
1.      Tingkah laku terminal
2.      Kondisi-kondisi tes
3.      Standar (ukuran) prilaku
Tingkah laku terminal adalah komponen tujuan belajar yang menentukan tingkah laku siswa setelah belajar. Tingkah laku itu merupakan bagian dari tujuan yang menunjuk pada hasil yang diharapkan dalam belajar, apa yang dapat dikerjakan/dilakukan oleh siswa untuk menunjukkan bahwa dia telah mencapai tujuan. Tingkah laku ini dapat diterima sebagai bukti, bahwa siswa telah belajar. Tingkah laku (bahaviour) adalah perilaku (performance) yang dapat diamati atau direkam.
Kondisi-kondisi tes. Merupakan komponen kondisi tes  tujuan belajar menentukan situasi dimana siswa dituntut untuk mempertunjukkan tingkah laku terminal. Kondisi-kondisi tersebut perlu disiapkan oleh guru, karena sering terjadi ulangan/ujian yang diberikan oleh guru tidak sesuai dengan materi pelajaran yang telah disampaikan sebelumnya. Peristiwa ini terjadi karena kelalaian guru yang tidak memiliki konsep yang jelas tentang cara menilai hasil belajar siswa sebelum dia melaksanakan pembelajaran.
Ukuran-ukuran perilaku. Suatu ukuran menentukan tingkat minimum perilaku yang dapat diterima sebagai bukti, bahwa siswa telah mencapai tujuan, misalnya siswa telah dapat memecahkan suatu masalah dalam waktu 10 menit,siswa dapat melakukan prosedur kerja tertentu, dan sebagainya. Ukuran perilaku tersebut merupakan kriteria untuk mempertimbangkan keberhasilan pada tingkah laku terminal. Ukuran-ukuran perilaku tersebut dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang harus dikerjakan sebagai lambing tertentu, atau ketepatan tingkah laku, atau jumlah kesalahan, atau kedapatan melakukan tindakan, atau kesesuaiannya dengan teori tertentu.
Pentingnya Tujuan Belajar dan Pembelajaran
Tujuan penting dalam rangka sistem pembelajaran, yakni merupakan suatu komponen system pembelajaran yang menjadi titik tolak dalam merancang system yang efektif. Secara khusus, kepentingan itu terletak pada:
1.      Untuk menilai hasil pembelajaran. Pengajaran dianggap berhasil jika siswa mencapai tujuan yang telah ditentukan.  Ketercapaian tujuan oleh siswa menjadi indicator keberhasilan sistem pembelajaran.
2.      Untuk membimbing siswa belajar. Tujuan-tujuan yang dirumuskan secara tepat berdayaguna sebagai acuan, arahan, pedoman bagi siswa dalam melakukan kegiatan belajar.
3.      Untuk merancang sistem pembelajaran. Tujuan-tujuan itu menjadi dasar dan criteria dalam upaya guru memilih materi pelajaran, menentukan kegiatan belajar mengajar, memilih alat dan sumber, serta merancang prosedur penilaian.
4.      Untuk melakukan komunikasi dengan guru-guru lainnya dalam meningkatkan proses pembelajaran. Berdasarkan tujuan-tujuan itu terjadi komunikasi antara guru-guru mengenai upaya-upaya yang perlu dilakukan bersama dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tersebut.
5.      Untuk melakukan kontrol terhadap pelaksanaan dan keberhasilan program pembelajaran. Dengan tujuan-tujuan itu, guru dapat mengontrol hingga mana pembelajaran telah terlaksana, dan hingga mana siswa telah mencapai hal-hal yang diharapkan. Berdasarkan hasil kontrol itu dapat dilakukan upaya pemecahan kesulian dan mengatasi masalah-masalah yang timbul sepanjang proses pembelajaran berlangsung.
1.      TUJUAN PEMBELAJARAN
Guru sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa, dan dia harus mampu menulis dan memilih tujuan-tujuan pendidikan yang bermakna, dan dapat terukur.  
Suatu tujuan pembelajaran seyogjanya memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.      Tujuan itu menyediakan situasi atau kondisi  untuk belajar, misalnya: dalam situasi bermain peran;
2.      Tujuan mendefinisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati;
3.      Tujuan menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki, misalnya pada peta pulau Jawa, siswa dapat mewarnai dan member label pada sekurang-kurangnya tiga gunung utama.
Tujuan Sebagai Instrumen Pengukuran
Tujuan merupakan dasar unruk mengukur hasil pembelajaran, dan juga menjadi landasan untuk menentukan isi pelajaran dan metode mengajar. Berdasarkan isi dan metode itu selanjutnya ditentukan kondisi-kondisi kegiatan pembelajaran yang terkait dengan tujuan tingkah laku tersebut, yang disebut sebagai kondisi internal. Kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan tujuan tingkah laku disebut kondisi luar. Berdasarkan pemikiran ini, maka dianggap perlu menentukan kondisi-kondisi eksternal yang berguna untuk meyakinkan bahwa perilaku yang diperoleh benar-benar disebabkan oleh kegiatan belajar, bukan karena sebab-sebab lainnya.
Tujuan merupakan tolok ukur terhadap keberhasilan pembelajaran. Karena itu perlu disusun suatu deskripsi tentang cara mengukur tingkah laku. Deskripsi itu disusun dalam bentuk deskripsi pengukuran tingkah laku yang dapat diukur, atau tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung. Keterampilan melemparkan bola adalah perilaku yang dapat diamati secara langsung, sedangkan sikap terhadap suku lain adalah perilaku yang tak dapat diamati secara langsung.
1.      KLASIFIKASI TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan dapat diklasifikasikan berdasarkanpendekatan tertentu. Pengklasifikasian ini perlu diadakan supaya dapat diketahui jenis dan jenjang suatu tujuan pendidikan, dan hal ini dapat membantu si perancang/pengembang program pendidikan.
Klasifikasi tujuan pendidikan dilakukan berdasarkan pendekatan-pendekatan
1). Langsung/jangka panjang
2). Jenis perilaku (tipe performance)
3). Sumber
Dengan pendekatan ini diklasifikasikan tujuan menjadi beberapa tujuan pendidikan, yakni:
ü  Tujuan jangka panjang (long term), misalnya pengetahuan dan keterampilan yang berdayaguna sepanjang kehidupan.
ü  Tujuan antara(medium term), yang mencakup hal-hal yang diperoleh dari sekolah.
ü  Tujuan pembelajaran (course) berkenaan dengan bidang studi yang akan diajarkan.
ü  Tujuan unit, berkenaan dengan unit-unit yang akan diajarkan.
ü  Tujuan pelajaran (lesson), berkenaan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.
ü  Tujuan latihan, berkenaan dengan tingkah laku khusus yang akan dilatihkan.
Klasifikasi tujuan pendidikan ini digunakan dalam rangka merancang kurikulum.
Pendekatan Jenis Perilaku. Klasifikasi ini dibuat berdasrkan taksonomi tujuan pendidikan, yang terdiri dari:
ü  Tujuan-tujuan kognitif.
ü  Tujuan-tujuan afektif.
ü  Tujuan-tujuan psikomotorik.
Klasifikasi ini berguna dalam penyusunan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran. Penjelasan lebih lanjut mengenai taksonomi ini disajikan pada uraian berikutnya.
Pendekatan sumber. Pendekatan ini bertitik tolak dari kebutuhan masyarakat, kebutuhan organisasi, atau kebutuhan individual. Kebutuhan-kebutuhan tersebut diklasifikasikan dari segi input (isi atau informasi), proses (kemampuan berfikir), produk (keterampilan atau perilaku khusus).
Klasifikasi tujuan pendidikan meliputi:
ü  Tujuan-tujuan keterampilan kehidupan, yakni keterampilan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
ü  Tujuan-tujuan metodologis, berkenaan dengan cara-cara berfikir dan bertindak terhadap informasi, dan cara-cara mengetahui disiplin mata ajaran.
ü  Tujuan-tujuan isi, yang berkenaan dengan kemampuan siswa yang meliputi konsep, generalisasi, prinsip, yang ada dalam daerah dan struktur mata ajaran tertentu.
Klasifikasi tujuan ini berguna dalam rangka memilih dan merumuskan tujuan-tujuan suatu bidang pengajaran/bidang studi.
2.      TAKSONOMI TUJUAN PENDIDIKAN
Taksonomi tujuan pendidikan meliputi:
a). matra kognitif yang meliputi aspek-aspek pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi;
b). matra afektif yang meliputi aspek-aspek penerimaan, sambutan, menilai, organisasi, dan karakterisasi.
c). matra psikomotorik yang meliputi aspek-aspek persepsi, kesiapan, respons terbimbing, mekanisme, respons yang unik.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar